PEMULIHAN HAK EKONOMI DAN SOSIAL KORBAN PELANGGARAN BERAT HAK ASASI MANUSIA DALAM PERISTIWA TALANGSARI 1989 (Restoration of Social and Economic Rights of Victims of Gross Violations of Human Rights in the 1989 Talangsari Incident )

Registrasi / Login Untuk Membaca ...
Masyarakat Moro-Moro adalah kelompok masyarakat yang tinggal di kawasan register 45 Mesuji, Lampung.
Kelompok masyarakat tersebut kemudian dicap sebagai masyarakat illegal karena tinggal di atas tanah milik
PT Sylva Inhutani Lampung (PT SIL). Cap atau label tersebut mejadikan masyarakat Moro-Moro terabaikan
secara hak asasi manusia. Mereka tidak memiliki KTP, akte kelahiran, tidak terlibat pemilu dan tidak dapat
mengakses hak-hak dasar lainnya. Kondisi demikian belum mendapat perhatian yang cukup serius dari Negara.
Penulisan ini didasarkan pada data yang diperoleh dari hasil penelitian tentang masyarakat Moro-Moro yang
sudah terpublikasi. Perbedaannya adalah, penulisan ini berfokus pada urgensi resolusi konflik agraria (yang
berdimensi pelanggaran hak asasi manusia secara laten dan faktual) terhadap jaminan hak sipil dan politik.
Penulis berharap tulisan ini bermanfaat sebagai referensi Pemerintah Indonesia untuk menyikapi fenomena
pengabaian hak sipil dan politik. Tulisan ini mempercayai bahwa pemenuhan hak politik akan memperbaiki
kehidupan masyarakat di masa depan.
Kata Kunci: pengabaian hak sipil dan politik; pemilihan kepala daerah, Masyarakat Moro-moro;