PENANGANAN PENGEMBALIAN ASET NEGARA HASIL TINDAK PIDANA KORUPSI DAN PENERAPAN KONVENSI PBB ANTI KORUPSI DI INDONESIA

Registrasi / Login Untuk Membaca ...
Kejahatan korupsi merupakan ancaman terhadap prinsip-prinsip demokrasi, yang menjujung tinggi
trnasparansi, akuntabilitas, dan integritas, serta keamanan dan stabilitas bangsa Indonesia. Oleh karena
korupsi merupakan tindak pidana yang bersifat sistemik dan merugikan pembangunan berkelanjutan
sehingga memerlukan upaya penanganan, yang bersifat menyeluruh, sistimatis, dan berkesinambungan.
Sehingga diperlukan peraturan khusus untuk mengembalikan asset hasil tindak pidana korupsi.
Permasalahannya, adalah bagaimana penanganan pengembalian asset negara dan penerapannya melalui
jalur pidana di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penanganan dan penerapan
pengembalian asset melalui jalur pidana sesuai ketentuan KAK 2003. Penelitian ini menggunakan
metode penelitian yuridis normatif dan yuridis empiris dengan sifat penelitian deskriptif kualitatif. Dari
hasil pembahasan menyimpulkan bahwa proses penanganan pengembalian asset negara hasil tindak
pidana korupsi dapat dilakukan melalui jalur pidana melalui empat tahapan, yaitu pelacakan asset,
pembekuan asset, penyitaan aset dan pengembalian dan penyerahan asset. Sedangkan penerapan prinsip
dasar KAK 2003 di Indonesia dalam pengembalian aset dilakukan langkah-langkah berupa tindakan
pencegahan, kriminalisasi dan penegakan hukum, kerjasama internasional, bantuan teknis dan
pertukaran informasi, Illicit Enrichment dan pengembalian asset (Asset Recovery), yang telah diakui
oleh banyak pihak sebagai sebuah terobosan besar dan sekaligus merupakan prinisp dasar UNCAC.
Saran perlu pembentukan Undang-Undang tentang Pengembalian Aset Hasil Tindak Pidana Korupsi di
Indonesia.
587
Kata Kunci: korupsi; penanganan; penerapan; konvensi; PBB; anti korupsi